Memilih Kartu Video (3): Generasi Kartu Video yang Dibutuhkan


Cara termudah untuk mengetahui kemampuan sebuah kartu video adalah dengan memeriksa generasinya dari kartu video tersebut. Generasi kartu video dalam komputer khususnya dalam lingkungan Microsoft Windows adalah dengan memeriksa dukungannya pada versi DirectX. Untuk saat ini, DirectX sudah mencapai versi 11 yang menjadi standar pada sistem operasi Microsoft Windows 7.

Jika di dalam komputer ada komponen utama yang berperan dalam pemrosesan data yang disebut CPU, maka kartu video memiliki komponen pemrosesan data sendiri yang disebut dengan GPU. Keduanya memiliki persamaan dalam hal fungsinya dalam mengelola dan mengolah data berdasarkan program yang diberikan atau tersedia. Perbedaannya, GPU tidak memiliki kemampuan yang fleksibel sebagaimana CPU. GPU kebanyakan mengelola dalam hal komputasi grafis 2-dimensi dan 3-dimensi. Grafis 2-dimensi berkaitan dengan penyediaan tampilan antarmuka sistem operasi di layar monitor atau program lainnya seperti pengolah kata. Menggambar grafis 2-dimensi merupakan kemampuan mendasar yang dimiliki oleh semua kartu video termasuk prosesor GPU-nya. Jadi, untuk pemrosesan data grafis 2-dimensi, tidak ada masalah walau menggunakan kartu video apapun.

Sementara grafis 3-dimensi, yang banyak digunakan dalam dunia permainan (game) dan dalam dunia perancangan model 3-dimensi dalam bidang teknik dan arsitektur memerlukan komponen prosesor GPU yang memiliki kemampuan lebih. Ini dikarenakan perhitungan (komputasi) untuk 3-dimensi melibatkan perhitungan yang kompleks. Apalagi jika membutuhkan kualitas gambar 3-dimensi yang lebih baik lagi dan lebih realistik, akan membutuhkan spesifikasi prosesor GPU lebih baik lagi.

Dan ketika bekerja di lingkungan sistem operasi Windows, untuk memeriksa kemampuan prosesor grafis (GPU) bisa dilakukan dengan kemampuannya mendukung teknologi DirectX 11 yang menjadi standar di Windows 7. Semakin kompatibel dengan versi DiectX terbaru (versi 11), semakin bagus kualitas prosesor grafisnya. Dan semakin kecil versi yang didukungnya, semakin jelek kualitasnya. Kartu grafis dengan prosesor grafis yang mendukung DirectX versi 11 lebih baik daripada yang mendukung versi 10, dan selanjutnya.
Biasanya, generasi kartu grafis keluaran terbaru sudah mendukung DirectX 11 baik keluaran AMD (seri Radeon) maupun dari nVidia (seri geForce). Generasi terbaru seri Radeon adalah AMD Radeon HD7000, sementara dari nVidia adalah GeForce GT600. Intel juga sebenarnya mengeluarkan prosesor grafis, tapi prosesor grafisnya disatukan dengan chipset-nya atau prosesor CPU-nya. Kualitas grafisnya masih dibawah prosesor grafis keluaran AMD dan nVidia.

Logo DirectX

Jadi, dalam memilih kartu grafis bisa dilakukan dengan mencocokan kartu grafis yang dipilih dengan dukungannya terhadap standar DirectX yang diinginkan. Jika menginginkan kartu grafis yang sudah mendukung DirectX 11, harus memilih kartu grafis yang mendukung standar tersebut.

(Gambar meunang nginjeum ti http://www.thinktechno.com/)

Chip Grafis: Pertarungan ATI vs nVidia (Bagian 3)


[Melanjutkan tulisan sebelumnya]

Awal tahun 2002, nVidia meluncurkan keluarga GeForce4: GeForce4 Ti dan GeForce4 MX. Keluarga GeForce4 MX hanyalah penamaan saja, yang tidak berpengaruh pada perbaikan teknologi dari GeForce3. Kartu grafis berbasis GeForce4 MX tidak lebih baik dari GeForce2 Ultra. Sementara untuk GeForce4 Ti memiliki clock sekitar 20% lebih tinggi daripada Radeon 8500. Peningkatan ini sebagai hasil dari teknologi baru yang menjadi target kinerja ke depannya.

Pertengahan 2002, ATI mengeluarkan chip grafis terbarunya yang ditujukan untuk menghantam GeForce4. Produk tersebut adalah Radeon 9000, Radeon 9000 Pro dan Radeon 9700 Pro. Radeon 9000 ditujukan untuk menghantam GeForce4 MX di pasaran kelas bawah dan menengah. Seri Radeon 9000 hanya mendukung DX8.

Radeon 9000 vs GeForce4 (sumber foto: internet)

Sementara Radeon 9700 menyasar kelas atas dengan mendukung penuh standar DX9 yang belum didukung oleh nVidia. ATI menamakan chip grafis ini dengan nama VPU (Visual Processing Unit). Keistimewaan chip ini adalah memiliki antarmuka memori dengan lebar data 256-bit dan 8 parallel rendering pipeline (dua kali dari yang dimiliki oleh GeForce4) yang mengakibatkan chip grafis ini memiliki transistor 110 juta dengan proses manufaktur 0,15 um. Clock Radeon 9700 sekitar 20% lebih tinggi daripada GeForce4 Ti. Dari hasil pengujian, dengan mengaktifkan antialiasing atau anisotrophic filtering, kinerja Radeon 9700 melebihi kinerja GeForce4 Ti pada level 100% (dua kali lebih cepat).

Di akhir tahun 2002, nVidia mengeluarkan chip grafis terbarunya dengan nama GeForce FX. Teknologi yang diusungnya diberi nama CineFX yang memiliki kemampuan mengirimkan efek kualitas sinema secara real time. Karena kompleksitasnya, chip ini dihuni tidak kurang dari 125 juta transistor. Namun ditunda karena memiliki masalah pada proses fabrikasi 0,13 um. Chip ini ditargetkan memiliki kecepatan 500 MHz, namun untuk kalangan pengguna biasa diturunkan menjadi 400 MHz.

[Bersambung]

Chip Grafis: Pertarungan ATI vs nVidia (Bagian 2)


[Melanjutkan tulisan sebelumnya]

GeForce3 vs Radeon 8500

Awal tahun 2001, nVidia mengeluarkan seri GeForce3 yang dikembangkan berlandaskan pada platform GeForce2 GTS. GeForce3 menjadi tonggak awal era baru dalam industri grafis komputer. Potensi dari fitur yang dibawanya sangat bermanfaat bagi pengembang game, perancang chip dan programmer API. Teknologi tersebut, sebagaimana nVidia menamakannya, adalah nFinite FX engine. Teknologi ini memberikan keleluasaan kepada pengembang game untuk memprogram chip grafis, dan mengijinkan mereka untuk mengimplementasikan fitur spesifika apa saja yang diperlukan. Teknik ini lebih dikenal dengan ‘programmable vertex and pixels shader’. Sebagai tambahan, GeForce3 hanya memiliki sedikit peningkatan kinerja, hanya 30% dari GeForce2 Ultra. Dan untuk mengalahkan ATI, nVidia mempromosikan GeForce3 sebagai chip grafis yang mengimplementasikan standar DirectX 8 (DX 8) secara penuh.

ATI Radeon 8500 vs nVidia GeForce3 (sumber foto: internet)

Untuk mengejar ketinggalan dari nVidia, ATI mengeluarkan Radeon yang baru, Radeon 8500. Dengan pengembangan DX 8 menjadi DX 8.1, GeForce3 keluaran nVidia tidak lagi sesuai dengan standar DX 8.1. Faktor inilah yang dipromosikan ATI, bahwa Radeon 8500 mendukung RX 8.1.

Aktualnya, Radeon 8500 memiliki kinerja 10-20% lebih tinggi dari GeForce3. Sehingga Radeon ini tidak saja memukul GeForce2 GTS tapi juga GeForce3.

nVidia bertahan dengan mengeluarkan GeForce3 Titanium yang sebenarnya tidak lebih dari percobaan perubahan nama. Selain itu juga dilakukan penambahan sejumlah fitur yang dilakukan melalui peningkatan dalam driver sehingga GeForce3 Ti tidak lebih dari GeForce3 yang dioverclock.

[Bersambung]

Chip Grafis: Pertarungan ATI vs nVidia (Bagian 1)


Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pasaran kartu video atau kartu grafis komputer dikuasai oleh dua perusahaan terbesar yang berasal dari Amerika dan Kanada: nVidia dan ATI (AMD). Dengan tidak mengesampingkan perusahaan sejenis lainnya seperti Intel (yang membuat chip grafis terintegrasi ke dalam chipset), SIS dengan seri Xabre-nya, S3 (yang diintergasikan ke dalam chipset VIA), kedua perusahaan merupakan pemain utama dalam memproduksi chip grafis mulai dari kelas bawah (low end), kelas menengah (mainstream) hingga kelas atas (high-end). Kedua perusahaan ini saling berebut tahta teratas dalam pembuatan dan penjualan chip grafis. Keduanya bersaing untuk menjadi nomor satu di dunia chip grafis.

Sebenarnya, pertarungan kedua perusahaan ini dimulai ketika nVidia mengeluarkan chip grafis seri GeForce sementara ATI mengeluarkan seri Radeon. Setelah itu, kedua perusahaan saling susul menyusul memperkenalkan jajaran chip grafisnya masing-masing, dan keduanya saling mengalahkan. Namun dalam perjalanannya, nVidia mendominasi posisi teratas dalam penjualan chip grafis. Dan karena kekalahannya tersebut, ATI mengalami kerugian yang akhirnya pada tahun 2006 ATI dibeli oleh AMD.

GeForce 256/GeForce2 GTS vs Radeon

Setelah mengeluarkan seri TNT2, nVidia mengeluarkan seri chip grafis dengan nama GeForce256. Di dalam chip grafis ini terdapat hardware yang dapat melakukan perhitungan transformasi dan pencahayaan secara langsung yang dikenal dengan Hardware T&L. Kemampuan ini membuat chip grafis tersebut dikenal dengan nama GPU (Graphical Processing Unit).

ATI Radeon vs nVidia GeForce256 (Sumber foto: internet)

Di pihak lain, ATI tidak mau ketinggalan. Setelah mengeluarkan seri Rage-nya, ATI mengeluarkan seri Radeon pertama yang ditujukan untuk menyaingi GeForce256. ATI mempromosikan Radeon ini dengan menyatakannya mendukung fitur DirectX 7 daripada GeForce256. Dari hasil pengujian, Radeon memiliki kinerja yang sama dengan GeForce256 dalam hal pengujian warna 16-bit. Sementara untuk pengujian warna 32-bit, Radeon meninggalkan GeForce256. Ini berkat adanya teknologi HiperZ dalam chip Radeon.

Setelah ketinggalan oleh ATI, nVidia mengeluarkan seri penerus GeForce256 yaitu seri GeForce2 GTS. Peningkatan yang dilakukan adalah dengan diterapkannya dua texture hingga empat piksel dalam satu pass. Pengujian membuktikan kinerja GeForce2 GTS lebih tinggi 65% daripada Radeon dalam pengujian warna 16-bit. Namun dalam pengujian warna 32-bit, chip ini tidak berkutik  apalagi dalam resolusi gambar yang lebih dari 800×600 piksel. Masalah ini dikarenakan kecepatan memori yang digunakan. Walau demikian, di pasaran chip grafis ini mendominasi dibandingkan Radeon dengan dikeluarkannya GeForce2 MX, Ultra (DDR), Quadro dan GeForce GO. Ditambah lagi dengan dikeluarkannya driver Detonator 3.

[Bersambung]