Milih Hiji


Ngan hiji nu ngancik na diri,
Rek diajak alus atawa keri,
Sagalana moal pahili,
Pikeun saha nu kataji,

Hiji nu taya duana,
Nepi iraha rek ngalalana,
Neangan sagala upaya,
Tetep aya lebahna,

Di dieu atawa di ditu,
Milih mah eta kudu,
Jalan mana nu dilaku,
Datar atawa pinuh batu,

(Dicutat tina: http://www.facebook.com/note.php?note_id=436723271893)

Antara Dua Pilihan (Bagian 5)


Keterbukaan membawa pemahaman yang baru. Ketika mendengar ibadah, maka yang harus dipikirkan bukan hanya ibadah makhdhoh saja. Ada bentuk ibadah lain yang tidak termasuk ibadah makhdhoh. Setiap orang yang beribadah itu memiliki dasar untuk menjalankan perintah agama yang dipegangnya. Jadi dengan memeluk agama yang kuat, seseorang akan melaksanakan segala perintahnya yang biasa dikenal dengan nama ibadah.

Namun demikian terkadang tidak jarang orang yang terjebak pada pemahaman ibadah ritual saja. Dan berkaitan dengan ini, agama tidak hanya mengatur ibadah ritual saja. Ada bentuk ibadah yang lain. Dan Islam bukanlah agama ritual yang hanya mengatur bagaimana tata cara ibadah, bagaimana tata cara berhubungan dengan Rabb-nya. Islam juga mengatur hal-hal lain yang lebih luas. Segala hal tentang kehidupan, ada panduannya dalam Islam.

Dengan demikian, orang-orang yang melaksanakan ibadah itu setidaknya terbagi ke dalam dua kelompok. Yang pertama hanya memegang agama sebagai panduan dalam beribadah saja, sementara dalam kehidupannya tidak memegang atau menggunakan panduan dari agama. Sementara kelompok lainnya menginginkan agar agama itu bukan hanya mengatur kehidupan ibadah ritual saja, namun semua aspek kehidupan itu harus berumberkan pada aturan agama. Jadi, kelompok ini memiliki keinginan bagaimana agar aspek kehidupan bermasyarakat itu berada dalam koridor aturan agama.

Mau memilih atau mendukung yang mana…? Pilihan berada pada diri masing-masing. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Tinggal bagaimana mempertanggungjawabkannya.

So, ada yang terjebak pada agama ritual semata…? Silakan tentukan pilihan selanjutnya.

Hidup untuk Memilih


Tiada hidup tanpa pilihan. Dan hidup adalah untuk memilih.

Sejak kejadian manusia, pilihan itu sudah ada. Dan sudah nyata terbukti pilihan-pilihan yang dipilihnya. Begitulah pilihan yang mereka pilih. Pilihan memang harus dipilih, tergantung mana yang mau dipilih. Tidak memilih apa yang dipilih juga merupakan pilihan. Namun demikian, yang namanya pilihan umumnya menuntut kita untuk memilih salah satu dari pilihan yang ada. Tidak bisa tidak, kita harus memutuskan mana yang akan kita pilih.

Sejarah membuktikan, bagaimana ketika penciptaan manusia dan makhluk lainnya, dibutuhkan keputusan untuk menentukan pilihan. Ketika para Malaikat mendengar Allah akan menciptakan Kholifah yang akan mengurusi dunia, mereka dihadapkan pada dua pilihan menyetujuinya atau menentangnya. Lihat saja apa kata mereka,

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah”, (Q.S. Al Baqarah: 30)

Namun demikian, yang namanya Malaikat yang diciptakan hanya dan hanya untuk mengabdi kepada Allah, mereka menurut saja apa yang dikehendaki oleh Sang Penciptanya. Dan pilihan untuk memilih ketaatan kepada Allah dibuktikan ketika Allah memerintahkan seluruh makhluk-Nya untuk memberikan penghormatan (sujud) kepada Adam (manusia pertama yang diciptakan Allah sebagai Kholifah di muka bumi), mereka (para Malaikat) memutuskan untuk bersujud kepada Adam. Sebagaimana dilihat pada ayat

“Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Baqarah: 34).

Sementara makhluk Allah yang bernama Iblis, memutuskan untuk memilih jalan menentang perintah Allah.

Kedua pilihan ini merupakan cerminan kehidupan manusia. Bahwa manusia akan dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang memang harus diputuskan memilih pilihan yang mana. Setiap pilihan memiliki resiko sendiri-sendiri. Sebagaimana Iblis yang memilih jalan untuk menentang perintah Allah. Dia memilih itu bukan tanpa pertimbangan, bukan karena tidak tahu resiko apa yang akan dialaminya. Karena setiap pilihan memiliki akibat atau resiko masing-masing.

Keduanya (tunduk patuh atau membangkang) merupakan pilihan. Pilihan yang akan ada terus sampai akhir masa.