Embun


Kenging Lies Tjandra Kancana

 
 

Ketika aku bercermin, ANG, Aku kira cerminku berembun, Ku coba menghapusnya, tetap berembun Kupukul cermin itu, pecah, dan tanganku terluka

“Mengapa kau pecahkan cerminmu” tanyamu

“Karena kotor dan berembun,” jawabku,

Kau belai tanganku, lembut kau berkata: “Sayang sebenarnya matamu yang berembun”

“Mataku?” Aku bertanya.

“Ya kau menangis, mari kuobati lukamu.”

Aku tersedu.

Nyeri, ANG…

(LTK. 26.12.012)

(Gambar meunang nginjeum ti http://www.blogspot.com/)