Antara Dua Pilihan (Bagian 3)


Usahaku hanya sedikit manfaatnya. Karena memang apa yang aku dapatkan tidak ada manfaatnya atau sedikitnya bisa menunjang pengetahuan agamaku yang bermanfaat di kampungku. Ada perbedaan ilmu yang aku pelajari dengan ilmu yang dipelajari teman-temanku. Apa yang dipelajari teman-temanku cocok dengan kondisi di kampungku. Sementara yang aku pelajari, tidaklah cocok.

Aku harus mencari jalan dan solusi lain. Namun, apa dan bagaimana yang harus aku kerjakan.

Salah satu solusi yang sedikit membantuku adalah mencari sumber-sumber yang memang sedikit relevan dengan kehidupan di kampungku, mencari buku-buku sumber yang temanya tidak jauh dengan materi yang diajarkan di pesantren, dan mencari buku-buku terjemahan kitab kuning.

Untuk sementara, masalahku teratasi walau sedikit. Ya, walau sedikit, tapi lumayan untuk meredakan atau meringankan beban.

Walau demikian, karena memang masalah sebenarnya bukan dari materi ilmu agama yang didapatkan selama belajar. Permasalahan utamanya berkaitan dengan pemilihan jalan untuk menuntut ilmu. Tetap saja, ada perasaan yang mengganjal. Aku memvonis diri telah memilih jalan ini.

Kadang aku suka bermain teka-teki dengan teman-temanku sekedar untuk meringankan beban dan berbagi masalah, walaupun permasalahan sebenarnya tetap aku sembunyikan. Teka-teki tentang seekor semut yang telah memilih jalan yang berbelok dari jalan yang lurus. Bisakah ia kembali ke jalan yang lurus? Sementara jalan yang menghubungkan jalan yang dipilihnya dengan jalan yang lurus itu tidak diketahui seperti apa dan bagaimana….

Dengan berjalannya perjalanan hidup di sekolah yang kadang terasa indah dan menyedihkan, menjalani hidup usia remaja yang memang lagi usianya. Permasalahan ini timbul tenggelam. Kadang membebani, kadang menghilang begitu saja.

Mungkin, dan memang itu jawaban yang diharapkan, salah satu solusi yang akhirnya aku temukan adalah, menurut guruku, hidup manusia itu untuk beribadah. Lalu, apa itu ibadah…?

 

Antara Dua Pilihan (Bagian 2)


Jika memang aku harus menyalahkan tentang apa yang telah aku pilih, tidak ada yang bisa aku salahkan. Tidak ada pihak yang bisa aku jadikan KAMBING HITAM. Jika harus menyalahkan diri sendiri, ini karena aku terpaksa. Jika harus menyalahkan orang tua, aku tidak bisa. Menyalahkan siapa…?

Tak ada baiknya dan mungkin tak akan berakhir. Biarlah hal ini terjadi. Mungkin inilah jalan hidup yang harus aku lalui. Aku tidak boleh tenggelam dalam pencarian siapa yang salah…. Karena apapun yang terjadi, aku yang akan mengalaminya. Akulah yang akan menjalaninya.

Aku harus bisa menatap ke depan….

Jika aku telah memilih jalan ini, masih mungkin bagiku untuk bisa menginjakkan kaki di jalan itu. Aku masih bisa! Ya, aku masih bisa menapaki jalan itu! Hanya saja, bagaimana sih caranya…?

Aku mencoba untuk mencari jalan pintas menuju ke sana. Aku mencoba menyisihkan uang jajanku sekedar untuk membeli buku-buku agama. Dan Alhamdulillah, kebetulan aku mendapatkan beasiswa. Aku pergunakan sebagian untuk membeli buku yang aku butuhkan. Sebagai catatan, kebutuhan akan ilmu agama ini mendesak menjelang bulan Ramadhan. Berbekal pengalaman tahun kemarin, aku harus mempersiapkan diri memahami tentang agama yang aku pegang. Aku harus memahami bagian-bagian mendasar yang menjadi kebutuhan sehari-hari yang berkaitan dengan IBADAH.

Dengan itu, sedikit banyak membantuku untuk lebih mempelajari agama. Sehingga aku tidak ketinggalan terlalu jauh oleh teman-temanku. Walau, sampai saat inipun belum banyak buku yang aku bisa baca sampai tamat. Hanya sebagian saja yang bisa aku baca, karena tuntutan untuk bisa memahami apa yang dianggap penting.

Walau aku sekolah, aku masih bisa belajar ilmu agama di luar sekolah melalui buku-buku dan media radio atau perpustakaan sekolah. Kebetulan kalau aku belajar di Masjid dekat kosan, aku tidak bisa. Mengapa tidak bisa…? Alasannya, sebenarnya sederhana saja. Masalah FURU’IYAH.

Namun, aku belum bisa menerima bahwa sekolahku bisa menjadikan aku berada di jalan itu. Sekolahku tetap berada di jalan ini. Aku tetap menolak, dan beranggapan bahwa sekolahku hanya suatu jalan yang termasuk yang salah.

Antara Dua Pilihan (Bagian 1)


Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolah. Aku ingin tinggal di kampung, bekerja di kampung jadi petani. Namun orang tuaku memaksaku untuk tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi hingga ke perguruan tinggi. Dan akhirnya bisa bekerja minimal jadi Pegawai Negeri (PNS). Buat apa dan kerja apa tinggal di kampung juga, begitu alasan orang tuaku.

Dengan terpaksa aku memenuhi keinginan orang tuaku. Aku akhirnya melanjutkan sekolahku yang lumayan jauh dari kampungku. Sehingga aku harus tinggal jauh dari orang tua. Aku tinggal di kontrakan. Aku harus bisa hidup mandiri, harus belajar mandiri. Belajar untuk tidak selalu tergantung pada orang tua dalam beberapa hal.

Selain aku harus tinggal jauh dengan orang tua (yang memang belum pernah merasakan bagaimana hidup jauh dari orang tua), aku harus meninggalkan teman-temanku di kampung. Teman sepermainan dan teman sesekolah. Aku harus meninggalkan mereka. Bukan hanya meninggalkan mereka. Aku…, aku harus berpisah dengan mereka. Aku memilih jalan yang berbeda dengan mereka….

Ya, aku memilih jalan yang berbeda dengan teman-temanku. Aku memilih untuk melanjutkan sekolah. sementara teman-temanku memilih untuk belajar di tempat yang berbeda, mereka lebih memilih untuk mendalami ilmu agama: belajar di Pesantren. Tempat yang memang bersimpangan…. Aku memilih sekolah (menuntut ilmu dunia) sementara teman-temanku memilih Masantren (menuntut ilmu agama).

Sehingga, aku memvonis diriku bahwa aku telah salah dalam memilih jalan hidupku. Aku berbeda dengan teman-temanku. Hal ini telah mengakibatkan aku jika pulang ke kampung jarang sekali aku main ke teman-temanku, walau ketika mereka berada di kampung. Aku merasa malu…. Mereka semakin faham tentang agama, sementara aku tidak mendapatkan pemahaman yang serupa. Bandingkan saja, aku belajar agama cuma 2 x 45 menit dalam satu minggu. Sementara teman-temanku tiap hari bergelut dengan ilmu agama. Pagi-Siang Sore-Malam belajar ilmu agama.

Waktuku, Waktumu, Waktu Kita Semua


Teringat akan perkataan guru mentoringku ketika masih di perkuliahan. Kata beliau, waktu yang digunakan oleh manusia itu hanya digunakan dalam dua perkara. Perkara tersebut adalah kebaikan dan kejelekan (kesalahan/kesesatan). Tidak pernah lebih dari itu.

(sumber: http://writersgateway.files.wordpress.com/2007/05/clock.gif)

Jadi, siapapun manusianya, entah Aku, Anda, Dia dan kita semua, menggunakan waktu hidup ini hanya dalam dua keadaan. Jika Aku tidak menggunakan waktuku untuk kebaikan pasti waktu tersebut digunakan dalam kesesatan atau kesalahan. Tidak pernah ada waktu yang digunakan untuk hal-hal yang pertengahan antara antara dua hal tersebut (antara baik dan salah). Jika tidak digunakan dalam kebaikan pasti dalam kesalahan.

Misalkan menggunakan waktu untuk melakukan kesia-siaan, pasti jika kesia-siaan itu tidak benar atau baik maka yang dilakukan tersebut adalah kesesatan atau kesalahan.

Melihat pada ayat di atas, waktu itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Sampai-sampai Allah bersumpah dengan menggunakan perkataan Demi masa. Dan memang waktu bagi manusia itu sangat berarti, karena waktu tidak pernah bisa diulangi atau diputar kembali. Bahkan untuk sekedar berhenti sejenak pun tidak bisa, sebagaimana perputaran siang dan malam, pergerakan matahari yang terus-menerus tiada berhenti sejenakpun.

So, waktuku, waktumu dan waktu kita semua, digunakan untuk apa ya…? Apakah digunakan untuk kebaikan atau kejelekan/kesesatan. Saatnya kita introsfeksi diri….

Mengenal Bilangan Biner


Sebagai suatu sistem bilangan, bilangan biner memiliki komponen bilangan yang hanya terdiri dari dua bilangan yaitu 0 dan 1. Walaupun hanya memiliki dua buah bilangan, namun tidak membatasinya dalam melakukan berbagai operasi bilangan sebagaimana pada bilangan desimal (basis 10). Hanya saja susunannya tidak mengenal angka 2 sampai 9. Susunan bilangan biner hanya melibatkan angkan 0 dan 1. Sehingga jika dilakukan perhitungan urutannya adalah: 0, 1, 10, 11, 100, 101, 110, 111, dan seterusnya.

Jika dalam bilangan desimal dikenal dengan bilangan puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya, maka dalam bilangan biner tidak dikenal istilah tersebut. Yang ada dalam bilangan biner adalah kilo, mega, giga, tera dan seterusnya.

Istilah kilo hampir sama dengan 1000 dalam bilangan biner. Hanya saja ada perbedaan jumlahnya. Karena 1 kilo dalam bilangan biner tidak sama atau tepat 1000, tapi 1024. Perbedaan ini karena untuk mengambil nilai satu kilo dalam bilangan biner caranya dengan memberikan pangkat 10 dari angka 2 (bilangan biner adalah bilangan basis 2).

Selain itu juga dalam bilangan biner dikenal adanya lebar atau jumlah digit bilangan biner. Jumlah digit ini menentukan kapasitas maksimal atau besarnya bilangan yang bisa dihitung dalam bilangan biner. Misalnya saja, jika bilangan biner dengan jumlah digit 2 buah, maka bilangan maksimalnya adalah 11 (bilangan yang bisa masuk adalah: 00, 01, 10, 11). Untuk menentukan jumlah atau kapasitas maksimal bilangan biner dengan jumlah digit tertentu, bisa dilakukan dengan menggunakan perhitungan 2 pangkat jumlah digit.

Jumlah digit ini sangat berperan dalam bidang pengembangan teknologi komputasi menggunakan mesin komputasi. Untuk memahami mesin komputasi diperlukan pemahaman bilangan biner.

 

Bilangan Biner dan Elektronika Digital


Penggunaan bilangan biner sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala di negeri China dan India. Namun penggunaannya sebagai  hanya bentuknya masih sederhana, bukan untuk perhitungan. Baru ketika di abad ke-17, Gottfried Wilhelm Leibniz memperkenalkan bilangan biner modern sebagai sebuah sistem bilangan.

Pada tahun 1854, seorang ahli matematika asal Inggris George Boole mempublikasikan tulisan yang mendasari sistem logika aljabar yang kemudian dikenal dengan nama Aljabar Boolean. Perhitungan logikanya menjadi dasar instrumen dalam perancangan rangkaian elektronika digital.

Memang tidak ada yang menyangka bahwa sistem bilangan biner atau bilangan berpasangan (0 dan 1) ini dapat mengubah kehidupan manusia. Dengan hanya menggunakan dua jenis bilangan ini, manusia dapat membuat peralatan yang sangat membantu kehidupannya.

Sebagaimana diketahui, rangkaian elektronika menggunakan arus listrik agar bisa bekerja. Arus listrik ini dapat dimanipulasi menggunakan rangkaian atau komponen tertentu. Agar bisa dimanipulasi diperlukan penyederhanaan dari penerjemahan arus listrik ini. Dan dengan adanya bilangan biner yang mengenal dua bilangan, maka sangat membantu dalam memecahkan masalah ini. Bilangan biner diadopsi untuk membuat rangkaian yang disebut rangkaian digital, yang hanya mengenal dua kondisi atau keadaan. Kedua kondisi tersebut adalah ada arus dan tidak ada arus.

Jadi bilangan biner 0 dan 1 dapat mewakili atau diwakili dengan kondisi arus listrik pada rangkaian elektronika dengan ada dan tidak adanya arus listrik. Jadi ada kesamaan sifat antara bilangan biner dengan rangkaian digital. Lebih lanjutnya, rangkaian digital dirancang agar bisa melakukan operasi-operasi sebagaimana yang bisa dilakukan pada bilangan biner, seperti tambah, kurang, bagi dan kali serta operasi logika pada bilangan biner (OR, AND, NAND, NOR dan XOR).

Dengan dasar yang sangat sederhana tersebut, rangkaian digital saat ini menjelma menjadi benda yang sangat membantu kehidupan manusia. Komputer adalah salah satunya.

So, sebenarnya komputer itu sangat sederhana dan mudah untuk dimengerti. Yang harus menjadi landasan untuk memahaminya adalah mengerti operasi logika dan arimatika. Siapa yang mau belajar komputer…?

Bilangan Biner dan Hukum Berpasang-pasangan


Bilangan biner atau disebut juga dengan bilangan basis dua hanya memiliki dua buah bilangan yaitu 0 dan 1. Sebagaimana bilangan lainnya (bilangan dengan basis lainnya: basis 8 (oktaf), basis (desimal) dan basis 16 (haksadesimal), pada bilangan biner bisa dilakukan operasi perhitungan seperti tambah, kurang, kali dan bagi. Bedanya adalah susunan bilangannya karena hanya memiliki dua buah bilangan, dalam bilangan biner tidak dikenal angka 2, 3, dan seterusnya. Yang ada dalam bilangan biner adalah 0, 1, 10, 11, 100, dst. Jadi walaupun hanya memiliki dua buah bilangan, tidak membatasinya untuk memiliki  sejumlah bilangan atau hitungan yang besar.

Keistimewaan bilangan biner adalah selain bisa dilakukan operasi aritmatika (tambah, kurang, kali dan bagi), juga bisa dilakukan operasi logika. Operasi logika adalah operasi yang menggunakan logika berpasangan atau berlawanan. Jawaban dari operasi logika adalah diambil dari bilangan biner itu sendiri, yaitu 0 atau 1. Tidak ada jawaban lain selain 0 dan 1 dalam operasi logika ini. Operasi-operasi logika yang biasa digunakan adalah OR, AND, NAND, NOR, dan XOR.

Dalam hal tertentu, bilangan biner ini bisa diwakili oleh kenyataan atau keadaan ADA dan TIDAK ADA; bisa juga diwakili  dengan YA atau TIDAK.

0 TIDAK ADA TIDAK
1 ADA YA

Jika kita melihat lagi bahwa seluruh penciptaan makhluk itu berpasang-pasangan. maka hal ini sangat menarik untuk dicermati. Seberapa besar konsep keberpasangan ini telah mengubah tata kehidupan manusia saat ini. Ternyata ada sesuatu nilai manfaat dari diciptakannya keberpasangan ini.

“Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah).” (Q.S. Adz-Dzariyat (51): 49)

Salah satu manfaat yang cukup besar yang mengubah kehidupan manusia yang pada dasarnya menggunakan konsep keberpasangan ini adalah teknologi informasi dan komunikasi.